penulis :
T. Djamaluddin
Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra' : 1).
Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (Q.S. An-Najm:13-18).
Ayat-ayat itu mengisahkan tentang peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Isra' adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Mi'raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Di dalam kisah yang agak lebih rinci di dalam hadits disebutkan bahwa Sidratul Muntaha dilihat oleh Nabi setelah mencapai langit ke tujuh. Dari kisah itu orang mungkin bertanya- tanya di manakah langit ke tujuh itu. Mungkin sekali ada yang mengira langit di atas itu berlapis-lapis sapai tujuh dan Sidratul Muntaha ada di lapisan teratas. Benarkah itu? Tulisan ini mencoba membahasnya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.
Sekilas Kisah Isra' Mi'raj
Di dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra' dan mi'raj dengan menggunakan "buraq". Di dalam hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah 'binatang' berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa "kendaraan" yang membawa Nabi SAW dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi.
Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, teruatam di desa-desa.
Dengan buraq itu Nabi melakukan isra' dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan salat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril Nabi melanjutkan perjalanan mi'raj ke Sidratul Muntaha.
Nabi SAW dalam perjalanan mi'raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.
Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib.
Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."
Di manakah Tujuh Langit
Konsep tujuh lapis langit sering disalahartikan. Tidak jarang orang membayangkan langit berlapis-lapis dan berjumlah tujuh. Kisah isra' mi'raj dan sebutan "sab'ah samawat" (tujuh langit) di dalam Al-Qur'an sering dijadikan alasan untuk mendukung pendapat adanya tujuh lapis langit itu.
Ada tiga hal yang perlu dikaji dalam masalah ini. Dari segi sejarah, segi makna "tujuh langit", dan hakikat langit dalam kisah Isra' mi'raj.
Sejarah Tujuh Langit
Dari segi sejarah, orang-orang dahulu --jauh sebelum Al- Qur'an diturunkan-- memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang jaraknya berbeda-beda. Kesimpulan ini berdasarkan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda-benda langit itu berada pada lapisan langit yang berbeda-beda.
Di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.
Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.
Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum'at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.
Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, ..., sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba'ah, khamsah, sittah, dan sab'ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum'at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur'an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum'at berjamaah.
Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian "Ahad" daripada "Minggu".
Makna Tujuh Langit
Langit (samaa' atau samawat) di dalam Al-Qur'an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada. Sedangkan warna biru bukanlah warna langit sesungguhnya. Warna biru dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh atmosfer bumi.
Di dalam Al-Qur'an ungkapan 'tujuh' atau 'tujuh puluh' sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan:
Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH tangkai yang masing-masingnya berbuah seratus butir. Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang-orang yang dikehendakinya....
Juga di dalam Q.S. Luqman:27:
Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah....
Jadi 'tujuh langit' semestinya difahami pula sebagai tatanan benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Tujuh langit pada Mi'raj
Kisah Isra' Mi'raj sejak lama telah minimbulkan perdebatan soal tanggal pastinya dan apakah Nabi melakukannya dengan jasad dan ruhnya atau ruhnya saja. Demikian juga dengan hakikat langit. Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi'ra. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra' mi'raj adalah langit ghaib.
Dalam kisah mi'raj itu peristiwa lahiriyah bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah mi'raj itu memang bukan langit lahiriyah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.
Rajab, 1415
T.Djamaluddin
(T. Djamaluddin adalah peneliti bidang matahari & lingkungan antariksa, Lapan, Bandung). Sumber : Media.Isnet.org
Tanpa kejernihan dalam kehidupan bagaimana manusia bisa berdamai dengan kematian ?
Selasa, 06 Juli 2010
Minggu, 12 Juli 2009
Makna Isra Mi'raj dan Amal Shaleh
Isra Mi'raj adalah sebuah peristiwa kontroversial yang pernah dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW. Secara bahasa Isra Mi'raj memiliki arti perjalanan diwaktu malam dari masjid al Haram di Makkah ke masjid al Aqsa di Palestina dan naik ke langit. Kata malam memiliki makna metafota suasana duka dan memang demikianlah suasana hati Rasulullah waktu itu.
Pembahasan tentang kronologi Isra Mi'raj telah banyak disampaikan baik secara langsung oleh para penceramah, maupun melalui buku oleh para penulis. Namun, makna sesungguhnya Isra Mi'raj sendiri tenyata masih jarang dibahas.
Telah diceritakan bahwa dalam perjalanan Isra Mi'raj tersebut Rasulullah mengendarai semacam hewan yang bernama buraq. Cerita tentang hewan buraq tidak tertera dalam Qur'an, cerita hewan tersebut hanyalah sebuah ungkapan untuk bisa dimengerti oleh manusia pada zaman itu (abad 8 masehi).
Buraq yang berarti kilat dapat dijelaskan dengan lebih baik di zaman modern sekarang ini setelah ilmu fisika mencapai kemajuan yang sangat pesat. Ilmu fisika modern menyepakati bahwa gerakan materi tercepat di jagad raya ini adalah pergerakan cahaya yakni 300.000 km per detik. Dengan demikian jelaslah bahwa buraq yang dimaksudkan Rasulullah pada abad ke-8 itu adalah sebuah fasilitas transportasi yang mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, setara dengan kecepatan cahaya jika mengacu pada pemahaman orang modern saat ini. Saya tulis setara tidak berarti kecepatannya sedikit kurang dari kecepatan cahaya, namun bisa saja justru melampaui kecepatan itu ! Karena dalam Qur'an disebutkan pula bahwa satu hari di langit setara dengan 50.000 tahun di bumi, dan malaikat Jibril membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk mencapai suatu tempat, tempat dimana Jibril biasa laporan kepada Allah SWT !
Makna Isra Mi'raj
Inti kisah Isra Mi'raj Rasulullah Muhammad SAW adalah perjumpaan dengan Allah SWT. Bagaimana perjumpaan secara langsung tersebut tidak dapat terkatakan oleh Rasulullah. Juga pertanyaan apakah Rasulullah melakukan Isra Mi'raj secara biologis utuh atau hanya secara spiritual, itupun menjadi tidak penting karena ilmu pengetahuan sekarang memaklumi bahwa energi dan dimensi dapat berubah-ubah (meskipun belum tentu bisa dibuktikan secara empiris) !
Sekali lagi, inti Isra Mi'raj adalah perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya. Yang penting untuk disampaikan disini adalah firman Allah yang mengatakan bahwa tidak mungkin seorang hamba dapat berjumpa dengan Allah jika tidak memenuhi dua persyaratan. Dua persyaratan itu adalah tidak menyekutukan Allah dengan apapun atau siapapun, termasuk dengan ego hamba itu sendiri. Kedua, melakukan amal shaleh.
Pengertian Amal Shaleh
Secara gampang amal shaleh diartikan sebagai segala perbuatan baik. Namun sesungguhnya pengertian amal shaleh tidak sekedar perbuatan baik, namun perbuatan baik yang disertai keikhlasan (memaklumi dengan tanpa pamrih). Seorang anak yang ahli ibadah, yang ayahnya adalah penista, belum bisa disebut anak shaleh atau melakukan amal shaleh apabila ia membenci ayahnya atau kesal dengan perbuatan ayahnya. Ia baru bisa disebut anak shaleh atau beramal shaleh apabila ia tidak pernah bosan mendoakan ayahnya, dan berdakwah kepada ayahnya itu dengan penuh kasih sayang.
Pembahasan tentang kronologi Isra Mi'raj telah banyak disampaikan baik secara langsung oleh para penceramah, maupun melalui buku oleh para penulis. Namun, makna sesungguhnya Isra Mi'raj sendiri tenyata masih jarang dibahas.
Telah diceritakan bahwa dalam perjalanan Isra Mi'raj tersebut Rasulullah mengendarai semacam hewan yang bernama buraq. Cerita tentang hewan buraq tidak tertera dalam Qur'an, cerita hewan tersebut hanyalah sebuah ungkapan untuk bisa dimengerti oleh manusia pada zaman itu (abad 8 masehi).
Buraq yang berarti kilat dapat dijelaskan dengan lebih baik di zaman modern sekarang ini setelah ilmu fisika mencapai kemajuan yang sangat pesat. Ilmu fisika modern menyepakati bahwa gerakan materi tercepat di jagad raya ini adalah pergerakan cahaya yakni 300.000 km per detik. Dengan demikian jelaslah bahwa buraq yang dimaksudkan Rasulullah pada abad ke-8 itu adalah sebuah fasilitas transportasi yang mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, setara dengan kecepatan cahaya jika mengacu pada pemahaman orang modern saat ini. Saya tulis setara tidak berarti kecepatannya sedikit kurang dari kecepatan cahaya, namun bisa saja justru melampaui kecepatan itu ! Karena dalam Qur'an disebutkan pula bahwa satu hari di langit setara dengan 50.000 tahun di bumi, dan malaikat Jibril membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk mencapai suatu tempat, tempat dimana Jibril biasa laporan kepada Allah SWT !
Makna Isra Mi'raj
Inti kisah Isra Mi'raj Rasulullah Muhammad SAW adalah perjumpaan dengan Allah SWT. Bagaimana perjumpaan secara langsung tersebut tidak dapat terkatakan oleh Rasulullah. Juga pertanyaan apakah Rasulullah melakukan Isra Mi'raj secara biologis utuh atau hanya secara spiritual, itupun menjadi tidak penting karena ilmu pengetahuan sekarang memaklumi bahwa energi dan dimensi dapat berubah-ubah (meskipun belum tentu bisa dibuktikan secara empiris) !
Sekali lagi, inti Isra Mi'raj adalah perjumpaan seorang hamba dengan Tuhannya. Yang penting untuk disampaikan disini adalah firman Allah yang mengatakan bahwa tidak mungkin seorang hamba dapat berjumpa dengan Allah jika tidak memenuhi dua persyaratan. Dua persyaratan itu adalah tidak menyekutukan Allah dengan apapun atau siapapun, termasuk dengan ego hamba itu sendiri. Kedua, melakukan amal shaleh.
Pengertian Amal Shaleh
Secara gampang amal shaleh diartikan sebagai segala perbuatan baik. Namun sesungguhnya pengertian amal shaleh tidak sekedar perbuatan baik, namun perbuatan baik yang disertai keikhlasan (memaklumi dengan tanpa pamrih). Seorang anak yang ahli ibadah, yang ayahnya adalah penista, belum bisa disebut anak shaleh atau melakukan amal shaleh apabila ia membenci ayahnya atau kesal dengan perbuatan ayahnya. Ia baru bisa disebut anak shaleh atau beramal shaleh apabila ia tidak pernah bosan mendoakan ayahnya, dan berdakwah kepada ayahnya itu dengan penuh kasih sayang.
Tambahan (Tentang Pemahaman Kalimat Tauhid dan Thoyyibah)
Dalam rangkaian tentang isra' mi'raj sangat jelas kalimat laa ilaaha illa Allah itu memuat dua pengertian yang mendasar sebagai kalimat Tauhid dan kalimat Thoyyibah. Yang satu menjelaskan tentang ke-maha esa an Allah, tidak ada ghair-ghair yang lain kecuali Allah, sedangkan kalimat Thoyyibah membawa kita kepada pengertian dasar untuk senantiasa berbuat baik (Kalim, kalam atau ucapan thoyyibah = baik/bagus). Pada suatu hari nanti mulut ini terkunci, tangan dan kaki yang berbicara tentang apa2 yang dilakukan/diperbuat (Yaa siin : 65). Inilah pengertian tentang kalimat: Hidup- nya memakai kalimat Thoyyibah.
Langganan:
Postingan (Atom)